Bagi banyak rumah sakit, integrasi dengan SATU SEHAT sudah bukan lagi sebuh pilihan, tetapi bagian dari kepatuhan. Platform data kesehatan nasional yang dikelola Kementerian Kesehatan ini dirancang agar data pelayanan pasien dari berbagai fasilitas kesehatan tersambung dalam satu ekosistem.
Pertanyaannya untuk jajaran manajemen RS bukan lagi “perlukah”, melainkan “apa yang harus disiapkan agar integrasinya berjalan mulus”?
Mengapa RS Wajib Terintegrasi?
Dasar hukumnya mengarah pada transformasi kesehatan digital. Peraturan Menteri Kesehatan tentang Rekam Medis (Permenkes No. 24 Tahun 2022) mewajibkan fasilitas pelayanan kesehatan menyelenggarakan rekam medis elektronik dan menghubungkannya dengan platform SATU SEHAT.
Semangat ini diperkuat oleh UU Kesehatan No. 17 Tahun 2023 beserta aturan turunannya, yang menempatkan sistem informasi kesehatan terintegrasi sebagai bagian dari tata kelola kesehatan nasional.
Manfaatnya terasa langsung bagi pasien. Riwayat medis dapat diakses lintas fasilitas, tumpang tindih pemeriksaan berkurang, dan kesinambungan perawatan lebih terjaga. Bagi RS, integrasi juga berarti data yang lebih rapi untuk pelaporan, klaim, dan pengambilan keputusan manajemen.
1. Pastikan Fondasi Regulasi dan Administrasi
Langkah pertama bukan teknis, melainkan administratif. RS perlu memastikan beberapa hal yang harus bisa terpenuhi mulai dari :
- Registrasi organisasi dan fasilitas di sistem Kemenkes sudah valid, termasuk kode fasilitas (ID organisasi) yang akan digunakan dalam pertukaran data.
- Penanggung jawab integrasi ditunjuk secara jelas, misalnya kepala IT atau komite rekam medis, sehingga ada satu pihak yang mengoordinasikan lintas unit.
- Akses ke lingkungan sandbox/staging SATU SEHAT diajukan, karena pengembangan dan pengujian dilakukan di sana sebelum masuk ke lingkungan produksi.
Banyak proyek terhambat bukan karena kendala teknis, melainkan karena urusan administrasi yang terlambat diurus setiap harinya.
2. Nilai Kesiapan SIMRS yang Dipakai
SIMRS adalah jantung integrasi, sehingga sebelum menyambungkan apa pun, perlu melakukan audit menyeluruh mulai dari beberapa hal berikut ini:
- Apakah SIMRS sudah berbasis rekam medis elektronik dengan data terstruktur, bukan sekadar catatan teks bebas?
- Apakah SIMRS mendukung standar interoperabilitas HL7 FHIR, standar yang digunakan SATU SEHAT? Jika belum, apakah vendor menyediakan modul atau pembaruan?
- Seberapa lengkap modul klinisnya: pendaftaran, rawat jalan, rawat inap, IGD, laboratorium, radiologi, farmasi, hingga billing.
Bagi SIMRS yang sudah lama dan tidak lagi diperbarui sering menjadi hambatan terbesar. Jika vendor tidak mampu menyesuaikan, maka RS perlu mempertimbangkan pembaruan atau melakukan penggantian sistem ke vendor baru.
3. Rapikan Data Master dan Terminologi
Integrasi dengan platform menuntut data yang konsisten. Ada beberapa hal yang wajib dibereskan:
- Data pasien: NIK sebagai identitas utama harus tervalidasi dan tersimpan dengan benar. Data ganda atau tidak lengkap akan menimbulkan kegagalan sinkronisasi.
- Data tenaga kesehatan: dokter, perawat, dan tenaga lain perlu terhubung dengan identitas resmi (misalnya nomor STR dan ID praktisi) agar dapat dipetakan ke sistem nasional.
- Pemetaan kode standar: diagnosis menggunakan ICD-10, prosedur menggunakan ICD-9-CM, sedangkan obat, laboratorium, dan alat kesehatan perlu dipetakan ke terminologi seperti KFA (Kamus Farmasi dan Alat Kesehatan), LOINC, atau SNOMED CT sesuai kebutuhan.
Pemetaan kode sering menjadi pekerjaan paling memakan waktu. Mulailah dari sekarang, karena kualitas pemetaan menentukan kualitas data yang terkirim.
4. Siapkan Infrastruktur dan Keamanan
SATU SEHAT berjalan melalui API, sehingga RS perlu memastikan:
- Koneksi internet yang stabil dan memadai, idealnya dengan jalur cadangan.
- Server dan jaringan yang mampu menangani lalu lintas data tambahan tanpa mengganggu operasional.
- Pengelolaan kredensial API (client ID dan secret key) yang aman, tidak tersebar di banyak tangan atau tersimpan sembarangan.
- Kepatuhan perlindungan data pribadi sesuai UU PDP: kebijakan akses, jejak audit, enkripsi, dan prosedur penanganan insiden kebocoran data.
Data kesehatan termasuk data pribadi yang bersifat spesifik. Kelalaian keamanan bukan hanya risiko teknis, tetapi juga risiko hukum dan reputasi.
5. Siapkan Manusia dan Alur Kerja
Teknologi tidak akan berjalan tanpa kesiapan pengguna. Beberapa langkah yang perlu dilakukan antara lain mulai dari:
- Sosialisasi dan pelatihan bagi dokter, perawat, petugas pendaftaran, farmasi, dan rekam medis tentang perubahan alur kerja.
- Penyesuaian SOP, terutama pada proses yang kini harus mencatat data secara terstruktur dan tepat waktu.
- Pembentukan tim lintas fungsi yang menjembatani kebutuhan klinis dan kemampuan teknis.
Resistensi terhadap perubahan adalah hal wajar. Libatkan perwakilan unit sejak awal agar mereka merasa memiliki prosesnya, bukan sekadar menerima instruksi.
6. Lakukan Pengujian Bertahap
Hindari integrasi sekaligus untuk semua layanan. Pendekatan bertahap biasanya lebih aman:
- Mulai dari resource dasar, seperti data organisasi, lokasi, pasien, dan praktisi.
- Lanjutkan ke data kunjungan dan klinis: encounter, kondisi, observasi, hingga tindakan.
- Perluas ke layanan penunjang seperti laboratorium, radiologi, dan farmasi.
- Uji di sandbox, perbaiki kesalahan format dan validasi, baru kemudian pindah ke produksi.
- Pantau pasca-Go-Live: tingkat keberhasilan pengiriman, pesan kesalahan, dan data yang tertolak.
Dokumentasikan setiap temuan. Catatan ini akan sangat berguna untuk pemeliharaan jangka panjang.
7. Bangun Budaya Pemantauan Berkelanjutan
Integrasi bukan proyek sekali selesai, karena manajemen RS perlu melakukan pemeriksaan berkala. Seperti spesifikasi API dapat diperbarui, regulasi bisa berubah, dan volume data akan terus bertambah. RS perlu menetapkan mekanisme pemantauan rutin, penanganan galat, serta evaluasi berkala agar kepatuhan tetap terjaga.
Persiapan yang Baik Menghemat Waktu dan Biaya
Integrasi SATU SEHAT menuntut kesiapan di lima lapisan sekaligus: regulasi dan administrasi, sistem SIMRS, kualitas data, infrastruktur dan keamanan, serta sumber daya manusia. RS yang menyiapkan semuanya lebih awal biasanya menjalani proses lebih singkat dan minim kejutan.
Jika tim Anda sedang menimbang langkah teknis terbaik, tidak ada salahnya berdiskusi dengan mitra yang sudah terbiasa mendampingi fasilitas kesehatan menghadapi transformasi digital.
Farmagitech dapat menjadi teman berdiskusi untuk memetakan kesiapan RS Anda, mulai dari penilaian sistem yang ada hingga menyusun rencana integrasi yang realistis. Konsultasikan segera kebutuhan RS Anda dan dapatkan DEMO Gratis! dengan menekan tombol di bawah ini.
Baca juga: Kenapa Banyak RS Masih Ragu Migrasi SIMRS?
Baca juga: 7 Kesalahan Fatal Saat Implementasi SIMRS dan Cara Menghindarinya

