Mitos-mitos ini umumnya sering muncul saat ruang rapat manajemen dan membuat investasi SIMRS tidak memberi hasil yang diharapkan.
Kapan terakhir kali Anda melihat laporan pendapatan rumah sakit dalam hitungan jam, bukan minggu?
Pada banyak RS, jawabannya masih sama: laporan baru keluar setelah akhir bulan, data pasien tercecer di tiap unit, dan klaim tertunda karena berkas tidak lengkap. Sementara itu, kewajiban rekam medis elektronik (Permenkes No. 24 Tahun 2022) dan integrasi dengan SATUSEHAT membuat SIMRS bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bagian dari kepatuhan.
Namun keputusan soal SIMRS sering tersandung anggapan lama yang tidak pernah diuji. Berikut lima yang paling sering kami temui. Anda mungkin masih memercayai salah satunya.
Mitos 1: SIMRS itu mahal dan hanya untuk RS besar
Fakta: Saat ini, pasar SIMRS hari ini jauh lebih beragam. Ada model modular, langganan, sampai berbasis cloud, sehingga RS tipe C dan D dapatmemulai dari modul paling krusial, misalnya pendaftaran, billing, dan rekam medis, lalu berkembang bertahap.
Apa yang jarang dihitung? : Diketahui biaya tidak punya sistem yang memadai. Tagihan layanan yang terlewat, input data berulang, klaim yang dikembalikan, dan risiko ketidakpatuhan regulasi juga uang, hanya saja tidak muncul sebagai satu baris anggaran.
Langkah praktis: sebelum bertanya berapa harga sistemnya, tanyakan “berapa yang hilang setiap bulan karena kita belum punya sistem yang baik?”
Mitos 2: SIMRS itu urusan tim IT
Fakta: SIMRS mengubah cara dokter mencatat, cara perawat bekerja, cara kasir menagih, dan cara manajemen mengambil keputusan. Itu bukan proyek teknologi, melainkan proyek perubahan organisasi.
Karena itu, implementasi jarang gagal akibat teknologinya. Penyebab yang lebih umum adalah tidak adanya sponsor di level direksi. Tanpa arahan yang tegas, setiap unit menjalankan sistem dengan caranya sendiri, dan hasilnya adalah data yang tidak bisa dibandingkan.
Langkah praktis: tunjuk satu sponsor eksekutif, idealnya Direktur atau Wadir, dan bentuk tim lintas fungsi yang melibatkan medis, keperawatan, keuangan, dan IT. Tim IT tetap penting, tetapi mereka pelaksana, bukan pengambil keputusan tunggal.
Mitos 3: “Sekali pasang, urusan selesai”
Fakta: Go-live merupakan garis start dan bukan garis finis. Setelahnya kemudian masih ada pelatihan staf baru, penyesuaian alur, pembaruan aturan BPJS dan SATUSEHAT, serta optimasi fitur.
Banyak RS akhirnya memiliki sistem mahal yang hanya dipakai sebagian kecil fungsinya. Modul sudah dibeli, tetapi staf kembali ke formulir kertas karena “lebih cepat”.
Langkah praktis: tetapkan indikator adopsi yang bisa dipantau, misalnya persentase rekam medis yang terisi lengkap atau jumlah unit yang sudah bebas kertas, lalu tinjau setiap kuartal dalam rapat manajemen. Apa yang tidak diukur akan berhenti berkembang.
Mitos 4: SIMRS membuat dokter dan perawat bekerja lebih lambat
Fakta: Yang memperlambat umumnya bukan lagi tentang digitalisasi, tetapi terkait alur kerja lama yang dipindahkan mentah-mentah ke layar, atau antarmuka yang dipilih tanpa masukan pengguna. Mengisi tiga formulir digital untuk data yang sama tentu terasa lebih lambat daripada menulis satu kali di kertas.
Resistensi tenaga kesehatan sering dianggap sikap tidak mau berubah. Padahal sering kali itu merupakan sinyal bahwa sistemnya belum dirancang sesuai kerja mereka.
Langkah praktis: libatkan perwakilan dokter dan perawat sejak tahap pemilihan sistem, bukan hanya saat pelatihan. Minta mereka menguji langsung alur harian, dari pendaftaran hingga resume medis. Kemudian sistem yang dipilih oleh pengguna akan dipakai oleh pengguna.
Mitos 5: SIMRS hanya merupakan alat administrasi dan klaim
Fakta: Ini mitos yang paling mahal, karena membuat Direktur melewatkan manfaat terbesarnya.
Kemudian data SIMRS yang rapi bisa diolah menjadi gambaran RS secara langsung: tingkat hunian (BOR), lama rawat (ALOS), pendapatan per layanan, waktu tunggu pasien, kepatuhan terhadap panduan klinis, dan tren klaim yang ditolak. Semua itu tersedia saat keputusan dibutuhkan, bukan tiga minggu setelahnya.
Tanpa itu, keputusan tentang penambahan tempat tidur, rekrutmen dokter spesialis, atau penyesuaian layanan diambil berdasarkan perkiraan, padahal jawabannya sudah ada di dalam data RS sendiri.
Langkah praktis: minta tim Anda menyajikan lima indikator utama yang bisa Anda lihat setiap pagi. Jika itu belum bisa dilakukan, itu sudah menjadi temuan penting.
SIMRS yang baik tidak hanya mencatat masa lalu, tetapi membantu Direktur memutuskan hari ini.
Mitos Mana yang Masih Ada di RS Anda?
Jawab cepat, ya atau tidak:
- Kami menunda SIMRS karena menganggapnya terlalu mahal.
- Urusan SIMRS sepenuhnya kami serahkan ke tim IT.
- Setelah go-live, kami tidak lagi mengukur tingkat pemakaiannya.
- Keluhan dokter dan perawat soal sistem dianggap masalah kebiasaan.
- Kami belum bisa melihat indikator utama RS secara langsung.
Satu jawaban “ya” saja sudah cukup menjadi alasan untuk meninjau ulang strategi SIMRS Anda. Jika ada tiga atau lebih, kemungkinan besar RS Anda sedang membayar mahal untuk sesuatu yang belum bekerja optimal.
Dari Proyek IT Menjadi Keputusan Strategis
Kelima mitos ini nanti akan bermuara pada satu kesalahan yang sama, yaitu memandang SIMRS sebagai proyek teknologi. Padahal SIMRS lebih berkaitan terkait pendapatan, kepatuhan, mutu layanan, dan kecepatan Anda mengambil keputusan.
Sebagai bahan renungan: Apabila data RS Anda bisa bicara hari ini, keputusan apa yang akan Anda ubah?
Mitos mana yang paling sering Anda dengar di RS Anda? Tulis di kolom komentar, kami ingin mendengar pengalaman Anda.
Baca juga: Panduan Memilih SIMRS untuk Rumah Sakit: Fitur, Integrasi, dan Skalabilitas
Baca juga: 7 Manfaat Aplikasi SIMRS bagi Direktur untuk Efisiensi dan Pendapatan Rumah Sakit


